Air Barokah Pemberian
MASYAYIKH
Created : Athiril MBAH Izin
Created : Athiril MBAH Izin
Waktu senja telah tiba, matahari mulai meredupkan sinarnya,
mega merah telah menyapa, hawa panas sudah tidak terasa, hawa dingin lekas
menerpa, bulan dan bintang mulai menampakkan, SUBHANALLAH…..!!! sungguh indah
tak terkira, mungkin inilah salah salah satu bukti atas kebesarannya.
LIRBOYO: kamis< 03-november-2014.
Pada suatu hari aku, rivan, edi, afa, dan nabil sepakat untuk
berbuka puasa di luar pondok alias di induk(PON.PES. LIRBOYO). Suatu ketika aku
awalnya bingung mau berbuka puasa di mana?..... karena sebenarnya aku jarang
sekali berbuka puasa di induk. Aku akhirnya memilih berdiam diri di kamar
sambil melalar NADZOM QOWA’ID AS-SHORFIYYAH.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.30sore, tetapi
aku masih melalar nadzom ku. Bait demi bait aku baca dengan teliti, sampai pada
akhirnya aku melihat edi dan nabil masuk kamar memakai pakaian sopan SYAR’AN
WAR’ADATAN. “kayaknya mereka mau keluar” pikirku. Aku bertanya kepada edi. ”ed,
arep neng ndi?....”.“arep buko poso neng induk,” Jawabnya, “karo sopo?” tanyaku
lagi,”Karo Nabil”jawabnya, “Aku bareng oleh po ra?” tanyaku lagi,”Yo… tak
enteni neng gerbang mburi,” Jawabnya. Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya aku
memutuskan untuk berbuka puasa bareng Edi sama Nabil. Aku segera memakai
pakaian sopan syar’an war’adatan dan siap-siap bergegas pergi, ketika aku
sampai di pintu kamar, aku bertemu dengan afa, “Zin, koen kate nang
ndi?”tanyanya”arep nang induk golek mangan kanggo buko poso.”jawabku.”nyapo
awakmu arep melu to?”tanyaku”zo…..aku melu,entenono dilut.”jawabnya.”tak enteni
nang gerbang mburi.”kataku sambil menuruni anak tangga,Disaat aku menuruni anak
tangga ,aku bertemu dengan Rivan,setahuku juga puasa.”van buko neng
endi?”tanyaku.”mbok kost paling!”jawabnya”kost,?!?...,enek bocah to seng jupuk
kost?”tanyaku lagi”mboh”jawabnya…”ora enek bocah seng jupuk
kos.”ujarku”mosok?”pintanya tidak percaya.”di omongi ngengkel,dari pada awak mu
gak sido book poso,mending melu aku waebuko poso nang induk karo arek-arek seng
poso,piye melu ora?’tanyaku”zo aku melu ,entenono dilut!tak salin
klambi.”jawabnya.”
Saat aku sampai di gerbang belakang,sudah ada edi dan
nabil dari tadi menunggu...Sepurane suwi!kataku.”Yo”jawab Edi..
Akhirnya kami berlima berangkat menuju induk.Saat
sudah sampai di Induk lebih tepatnya diserambi masjid lawang songo, Kami
berhenti sejenak untuk membahas warung mana yang akan kami tuju, akhirnya
setelah meninbang berbagai pendapat . Maka kami putuskan untuk berbuka puasa
diwarung Mesem, kami langsubg menuju kesana.
Setelah kami sampai kewarung mesem,
kami langsung memesan makanan dan minuman yang kami inginkan untuk berbuka
puasa nanti. “Allahu akbar… Allahu akbar…” . adzan telah berkumandang dimasjid
Lawang songo yang lokasinya tidak jauh dari warung mesem. “Alhamdulillah” kata
kami serentak, kamipun langsung menyegerakan berbuka puasadimulai dengan minum
dan dilanjutkan dengan membaca doa sebelum makan. Alhamdulillah betapa
nikmatnya orang yang sedang berbuka puasa, kami juga bertemu dengan Aziz dan
Ihab, mereka langsung bergabung dengan kami.
Sesaat setelah kami makan, pas waktu
aku meletakkan piring “Byurr” “panas….panas…panas.” gumamku. Ternyata air panas
mendidih telah membasahi pakaian kami dan para pelanggan lain yang ada didalam
warung, sotak, kami dan para pelanggan lain yang terkena air panas tadi
langsung menuju kearah sumbernya ( orang yang menyiram,red ) Begitu kagetnya
kami semua, sampai – sampai tidak ada yang bicara sepatah kata apapun, ketika
melihat orang yang telah menyiram kami tadi, disitu berdiri seorang masayikh
yang sedang memegang gayung berisi air panas. “Mbah Ahlis…!”. Kata salah
seorang pengunjung yang lain. Aku dan para pengunjung yang masih ada didalam
langsung berebut ingin keluar,walau harus berdesak-desakan.”hoy…….seng ngarep
rasah kesuwe,selak di siram.”kata salh seorang pengunjung dengan nada suara
agak tinggi,lucunya banyak pengunjung,banya k pengunjung yang berdesak-desakan
tanpa melupakan (meninggalkan)apa yang mereka bawa (makan)sebelumnya.Banyak
pengunjung berdesak-desakan sambil membawa piring(masih ada nasinya,RED)lauk
pauk(ayam,gorengan,krupuk)atau jajan yanh lain,serta tidak lupa juga membawa
minuman yang mereka pesan tadi.yang
lebih lucunya lagi,ada beberapa pengunjung yang hanya membawa sendoknya.jadi
pas waktu berhasil keluar pintu,mereka (pengunjung)hanya bisa menunggu,sambil
makan atau minum yang mereka bawa pas waktu berdesak-desakan tadi.terkecuali
pengunjung yang membawa sendok,yang hanya bisa menunggu keadaan kembali seperti
semula.
Tak berselang lama,Mbah Ahlis keluar warung melewati
pintu belakang.
Keadaan
seperti semula,kami segera menmbayar makan dan minum yang tadi kami
makan.Setelah itu,kami segera bergegas kembali menuju pondok dalam keadaan
basah kuyub,dan kulit kami yang merah dan memar akibat insiden tadi,bahkan rasa
panas masih aku rasakan.”mungkin inilah rasanya mendapat air barokah dari
Masayikh.”pikirku……sekian DIRIKU,wasalam……!






0 komentar:
Posting Komentar